Buka Peluang Investasi Global, PTBA Percepat Validasi Bisnis Proyek Gasifikasi DME
By Admin

Ilustrasi Pekerja Tambang Batubara
nusakini.com, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menyatakan peluang investasi proyek gasifikasi batu bara menjadi dimetil eter (DME) kini diminati oleh investor asal China dan Amerika Serikat. Proses pemilihan mitra strategis yang akan menggarap fasilitas pengganti gas minyak cair (LPG) ini sepenuhnya dikendalikan oleh Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.
Pernyataan terkait masuknya minat calon investor tersebut disampaikan oleh Vice President Hilirisasi PTBA, Dahlia Muchtar, di kawasan Jakarta Selatan pada Kamis (6/8/2026). Menurutnya, pintu kerja sama bagi korporasi dari negara lain juga masih terbuka sangat lebar selama tahap seleksi oleh pihak Danantara berlangsung.
Proyek pengolahan batu bara yang berpusat di Tanjung Enim, Sumatra Selatan ini sedang menjalani proses validasi kelayakan bisnis secara menyeluruh. Berdasarkan target perusahaan, proses penyelesaian keputusan investasi akhir atau final investment decision diharapkan dapat dirampungkan pada penghujung tahun 2027 mendatang.
Manajemen PTBA memproyeksikan pengolahan bahan baku sebanyak tujuh juta ton batu bara akan mampu memproduksi sekitar 1,4 juta ton gas DME setiap tahunnya. Saat ini, kajian keekonomian terus dilakukan secara intensif bersama BPI Danantara agar struktur pembiayaan megaproyek tersebut menjadi jauh lebih menguntungkan.
Sebelumnya, Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA, Turino Yulianto, pada Selasa (5/5/2026) menyebut bahwa penjajakan mitra penyedia teknologi masih terus berjalan. Megaproyek ketahanan energi nasional ini dijadwalkan selesai pada tahun 2030, menyusul kegiatan peletakan batu pertama yang telah dieksekusi pada Rabu (29/4/2026) lalu.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebelumnya juga telah memberikan sinyal positif terkait kehadiran penyedia teknologi mutakhir dari luar negeri. Dalam keterangannya pada pertengahan Oktober 2025, ia menilai perusahaan asal China dan Eropa merupakan kandidat terkuat berkat standar efisiensi mesin yang tinggi.
Rencana pembangunan fasilitas raksasa di Sumatra Selatan ini sempat mengalami perlambatan usai mundurnya investor utama pada pertengahan tahun 2023 silam. Kehadiran Danantara kini diharapkan mampu mempercepat realisasi transi si energi nusantara demi menekan angka impor LPG yang terus membebani anggaran negara. (*)